Masuk

EKONOMI PEMBANGUNAN PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

  
Abstraksi

Ekonomipembangunan adalah cabang ilmu ekonomi yang sejatinya hadir ditujukan khususuntuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara miskin (baca:negara berkembang). Tujuan utamanya adalah bagaimana kemiskinan, pengangguran,kesenjangan ekonomi dan sosial antarindividu bisa teratasi sehinggakesejahteraan umat manusia dapat terwujudkan.
Tulisanini hendak melihat konsep dan teori ekonomi pembangunan berdasarkan sudutpandang ekonomi Islam dengan pendekatan kualitatif. Beberapa kesimpulan pentingyang didapat dalam tulisan ini adalah bahwa ekonomi pembangunan perspektifIslam memiliki karakteristik: growth with equity, bersifat komprehensif mengandung unsur spiritual, moral, dan material,serta aktivitasnya cenderung multidimensional sehingga semua usaha harusdiserahkan pada keseimbangan berbagai faktor dan tidak menimbulkan ketimpangan.
Selain itu,  pembangunan ekonomimenurut Islam harus memprioritaskan beberapatujuan penting: pertumbuhan diiringi dengan tenaga kerja penuh, stabilitasekonomi, keadilan distributif dan kepedulian terhadap alam.

Keywords: EconomicDevelopment, Islamic Economics, Growth





I.                  PENDAHULUAN

Sejak terbitnya buku “An Inquiry into The Nature ofthe Wealth of Nations”nya Adam Smith, resmilah ilmu ekonomi terlepas dariinduknya (filsafat) dan lahir sebagai salah satu cabang ilmu baru. Oleh karenaitu, sejarah mencatat tahun penerbitan buku The Wealth of the Nation itusebagai tahun kelahiran ilmu ekonomi yaitu tahun 1776 Masehi.
Sementara itu ilmuwan dan ekonom dalam peradabanIslam seperti Ibnu Taimiyah (1262-1328) dan Ibnu Khaldun (1332-1406) jauh haritelah menulis dalam karyanya masing-masing terkait masalah-masalah ekonomiseperti: masalah buruh, masalah nilai, keuangan negara, pajak, hubunganpertumbuhan populasi dengan pertumbuhan ekonomi, hingga hukum permintaan danpenawaran (Aedy, 2011).
Bahkan ekonomi pembangunanpun telah lahir jauhsebelum itu, karena sejak instrumen zakat, infak dan sedekah menjadi kewajibandan anjuran bagi umat Islam sebagai solusi kemiskinan (tahun ke-2 Hijrah), makaekonomi Islam sejatinya telah memahami problem utama ekonomi pembangunan.
Ekonomi pembangunan sesungguhnya hadir ditujukankhusus untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara miskin(baca: negara berkembang) yang merdeka pasca perang dunia kedua. Namunfaktanya, penduduk miskin di negara berkembang tetap saja semakin banyak.Masalah utama ekonomi pembangunan seperti: kemiskinan, pengangguran,kesenjangan ekonomi dan sosial antarindividu masih belum bisa teratasi. Salahsatu alasannya adalah karena tidak diperhatikannya variabel lain seperti sosialhukum, politik, budaya dan variabel pembangunan lainnya.
Di sisi lain, ekonomi Islam memiliki misi yang jauhlebih luas dan komprehensif, dimana ekonomi pembangunan bukan sekadar membangunekonomi rakyat melainkan yang lebih penting adalah membangun sikap mental(mental attitudes) yang berarti pula membangun manusia secara utuh. Bukan saja sisijasmani, namun juga kebutuhan spiritual-transendental.
Pertumbuhan ekonomi dalam terma ekonomi modern adalah perkembangan dalam perekonomian yangmenyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat meningkat, yangselanjutnya diiringi dengan peningkatan kemakmuran masyarakat. Dalam analisismakroekonomi, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara diukurdengan perkembangan pendapatan nasional riil yang dicapai oleh suatu negarayaitu Produk Nasional Bruto (PNB) atau Produk Domestik Bruto. Dalam kegiatanekonomi yang sebenarnya, pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan ekonomifiskal yang terjadi di suatu negara seperti: pertambahan jumlah dan produksibarang industri, infrastruktur, pertambahan jumlah fasilitas publik,pertambahan produksi kegiatan-kegiatan ekonomi yang sudah ada dan beberapaperkembangan lainnya.
Sementara itu, istilah pembangunan  ekonomi (economic development)biasanya dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang.Sebagian ahli ekonomi mengartikan istilah ini sebagai ”economic developmentis growth plus change” (Pembangunan ekonomi adalah  pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh  perubahan-perubahan  dalam struktur dan corak  kegiatan ekonomi). Dengan kata lain,dalam mengartikan istilah pembangunan ekonomi, ekonom bukan saja tertarikkepada masalah perkembangan pendapatan nasional riil, tetapi juga kepadamodernisasi kegiatan ekonomi, misalnya kepada usaha perombakan sektor pertanianyang tradisional, mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan.
Dalam kajian ekonomi, kedua istilah di atas terkadangdigunakan dalam konteks yang hampir sama. Banyak orang mencampuradukkanpenggunaan kedua istilah tersebut. Pencampuradukan istilah ini walaupun tidakdapat dibenarkan, pada dasarnya tidak terlalu mempengaruhi kajian ekonomi,karena inti  pembahasan pada akhirnyaakan berhubungan erat dengan perkembangan perekonomian suatu negara.
Dalam berbagai literatur tentang ekonomi Islam, keduaistilah ini juga ditemukan. Ekonomi Islam pada dasarnya memandang bahwapertumbuhan ekonomi adalah bagian dari pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomididefenisikan dengan a suistained growth of a right kind of output which can contribute to human welfare.  (Pertumbuhan terus-menerus  dari faktor produksi secara benar yang mampumemberikan konstribusi  bagikesejahteraan manusia). Berdasarkan pengertian ini, maka pertumbuhan ekonomimenurut Islam merupakan hal yang sarat nilai. Suatu peningkatan yang dialamioleh faktor produksi tidak dianggap sebagai pertumbuhan ekonomi jika produksitersebut misalnya memasukkan barang-barang yang terbukti memberikan efekburuk  dan membahayakan manusia.
Sedangkan istilah pembangunan ekonomi yang dimaksudkandalam Islam adalah the process of allaviating poverty and provision of ease,comfort and decency in life (Proses untuk mengurangi kemiskinan sertamenciptakan ketentraman, kenyamanan dan tata susila dalam kehidupan). Dalam pengertianini, maka pembangunan ekonomi menurut Islam bersifat multi dimensi yangmencakup aspek kuantitatif dan kualitatif. Tujuannya bukan semata-matakesejahteraan material di dunia, tetapi juga kesejahteraan akhirat. Keduanyamenurut Islam menyatu secara integral (Mahrusy, 2009).
Tulisanini selanjutnya bertujuan hendak melihat konsep dan teori ekonomi pembangunanberdasarkan sudut pandang ekonomi Islam, berikut kesesuaian maupun perbedaandengan yang dijelaskan teori konvensional. Beberapa literatur pokok yangsifatnya ilmiah, digunakan untuk memperkuat hasil dan kedalaman tulisan ini.

II.               LITERATURE REVIEW
Dalam tema ekonomi pembangunan ini, ada beberapa literaturyang membahas dari perspektif Islam. Umpamanya yang dilakukan Hasan  (2007). Ia membahas tentang konsep dan tujuanekonomi pembangunan dari perspektif Islam dan mendiskusikan beberapa isupenting seperti peran pemerintah dan masalah populasi. Menurutnya, Islammelihat pembangunan ekonomi sebagai pertumbuhan kematangan manusia, dimanakemajuan materi harus menunjang kematangan spiritual. Beberapa tujuan pentingmesti diprioritaskan seperti: pertumbuhan diiringi dengan tenaga kerja penuh,stabilitas ekonomi, keadilan distributif dan kepedulian terhadap alam. Terkaitisu kontrol populasi, Hasan melihat bahwa hal ini (baca: kontrol populasi)harus tidak terlepas dari norma-norma Syariah yang terkandung dalam MaqhasidSyariah.
Selaras dengan hal ini, Ibrahim (2011) mengutarakanbahwa concern utama ekonomipembangunan pada sistem ekonomi Islam adalah kesejahteraan manusia (humanwelfare). Proses pembangunan ekonomi dalam Islam menurutnya harus semanusiawimungkin. Ia harus konsern terhadap pendidikan, mengutamakan integrasi sosialdan konservasi terhadap lingkungan. Baginya, pembangunan ekonomi harus sustain(berkelanjutan) dan tidak melupakan generasi yang akan datang (futuregeneration).
Sementara itu perspektif lain disampaikan olehMuhammad (2010). Dengan menggunakan pendekatan Ibnu Khaldun, ia menyimpulkanbahwa pembangunan ekonomi yang ideal adalah yang mampu memenuhi kebutuhan dasarseluruh umat manusia (basic needs), dan ‘dematerialisasi’. Sebaliknya, fenomenakonsumsi berlebihan (overconsumption), korupsi moral dan keserakahan ekonomiadalah indikator awal kejatuhan sebuah peradaban (civilization).
Dalam ekonomi Islam, kewirausahaan(entrepreneurship) sangat didorong. Begitu pula penggunaan teknologi mutakhir(Sadeq, 1987). Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan tidak dibedakan. Artinya,tidak ada pertentangan yang inheren antara nilai-nilai Islam dengan nilai yangekonomi pembangunan inginkan (Ahmad, 2000). Meskipun pada faktanya banyaknegara berkembang adalah negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim.

III.       EKONOMI PEMBANGUNAN PERSPEKTIF ISLAM
A. Determinan Pertumbuhan Ekonomi Perspektif Islam
Sama halnya dengan konsep konvensional, dalam pertumbuhan ekonomiperspektif Islam, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan  itu sendiri (Ahmad, 1997). Faktor-faktortersebut adalah : (1) Sumber daya yang dapat dikelola (invistible resources),(2) Sumber daya manusia (human resources), (3) Wirausaha (entrepreneurship),dan (4) Teknologi (technology). Islam juga melihat bahwa faktor-faktordi atas juga sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi.
1.      Sumber daya yang dapat dikelola (InvestableResources)
Pertumbuhan ekonomi sangat membutuhkan sumberdaya yang dapat digunakan  dalam memproduksi aset-aset fisik untukmenghasilkan pendapatan. Aspek fisik tersebut antara lain tanaman indutrsi,mesin, dan sebagainya. Pada sisi lain, peran modal juga sangat signifikan untukdiperhatikan. Dengan demikian, proses pertumbuhan ekonomi mencakup mobilisasisumberdaya, merubah sumberdaya tersebut dalam bentuk asset produktif, sertadapat digunakan secara optimal dan efisien. Sedangkan sumber modal terbagi duayaitu sumber domestik/internal serta sumber eksternal.
Negara-negara muslim harus mengembangkan kerjasama  ekonomi dan sedapat mungkin menahan diri untuk tidak tergantung kepada sumbereksternal. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir  beban hutang yang berbasis bunga danmenyelamatkan generasi akan datang dari ketergantungan dengan Barat.  Oleh karena itu perlu upaya untukmeningkatkan  sumberdaya domestik sepertitabungan dan simpanan sukarela, pajak ataupun usaha lain berupa pemindahansumberdaya  dari orang kaya kepada orangmiskin.
2.     Human Resources
Faktor penentu lainnya yang sangat penting adalah sumberdaya manusia.Manusialah yang paling aktif berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Peran merekamencakup  beberapa bidang, antara laindalam hal eksploitasi sumberdaya yang ada, pengakumulasian modal, sertapembangunan institusi sosial ekonomi dan politik masyarakat.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, maka perlu adanyaefisiensi dalam tenaga kerja. Efisiensi tersebut membutuhkan kualitasprofessional dan kualitas moral. Kedua kualitas ini harus dipenuhi dan tidakdapat  berdiri sendiri. Kombinasikeduanya mutlak dipadukan dalam batas-batas yang rasional
Prinsip Islam  terlihat berbeda  dengan mainstream  ekonomi konvensional  yang hanya menekankan pada aspek kualitasprofesional  dan mengabaikan kualitasmoral. Moral selama ini dianggap merupakan rangkaian yang hilang dalam kajianekonomi. Maka Islam mencoba mengembalikan nilai moral tersebut. Oleh karenaitu, menurut Islam untuk dapat menjadi pelaku ekonomi yang baik, orang tersebutdituntun oleh syarat-syarat berikut :
a). Suatu kontrakkerja merupakan janji dan kepercayaan yang tidak boleh dilanggar walaupunsedikit. Hal ini memberikan suatu jaminan moral seandainya ada penolakan kewajibandalam kontrak atau pelayanan yang telah ditentukan.
b) Seseorangharus bekerja maksimal ketika ia telah menerima gaji secara penuh. Ia dicelaapabila tidak memberi kerja yang baik.
c). Dalam Islamkerja merupakan ibadah sehingga memberikan implikasi pada seseorang untukbekerja secara wajar dan profesional (Ahmad, 1997).
3.      Wirausaha (Entrepreneurship)
Wirausaha merupakan kunci dalam proses pertumbuhan ekonomi dan sangatdeterminan. Wirausaha dianggap memiliki fungsi dinamis yang sangat dibutuhkandalam suatu pertumbuhan ekonomi. Nabi Muhammad Saw, dalam beberapa haditsmenekankan pentingnya wirausaha. Dalam hadits riwayat Ahmad beliau bersabda, ”Hendaklah kamu berdagang (berbisnis),karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki”. Dalam hadits yang lainbeliau bersabda, ”Sesungguhnyasebaik-baik pekerjaan adalah perdagangan (bisnis)”.
Menurut Chapra (1992) salah satu cara yang paling konstruktif dalammempercepat pertumbuhan yang berkeadilan adalah dengan membuat masyarakat danindividu untuk mampu semaksimal mungkin mengunakan daya kreasi dan artistiknyasecara profesional, produktif dan efisien. Dengan demikian, semangatentrepreneurship (kewirausahaaan) dan kewiraswastsaan harus ditumbuhkan dandibangun dalam jiwa masyarakat. .
Menumbuhkembangkan jiwa kewisahausahawaan akan mendorong pengembangan usahakecil secara signifikan. Usaha kecil, khususnya di sektor produksi akanmenyerap tenaga kerja yang luas dan jauh lebih besar. Beberapa  studi menunjukkan secara jelas konstribusi yangbesar dari industri kecil dan usaha mikro dalam memberikan lapangan pekerjaandan pendapatan. Mereka mampu menciptakan lapangan kerja bahkan secara tidaklangsung mereka berarti mengembangkan pendapatan dan permintaan akan barang danjasa, peralatan, bahan baku, dan ekspor. Mereka adalah industri padat karyayang kurang memerlukan  bantuan dana luar(asing), bahkan kadang tidak begitu tergantung kepada kredit pemerintahdibanding insdustri berskala besar.
Karena itu, tidak mengherankan apabila saat ini muncul kesadaran yangmeluas bahwa strategi industrialisasi modern yang berskala besar pada dekadeterdahulu secara umum telah gagal memecahkan masalah-masalah keterbelakanganglobal dan kemiskinan.
Dari paparan di atas dapat ditegaskan bahwa peran wirausaha dalammenggerakkan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang tak terbantahkan.Kelangkaan  wirausaha bahkan bisamenyebabkan kurangnya pertumbuhan ekonomi walaupun faktor-faktor lain banyaktersedia. Dalam hal ini pula Islam sangat mendorong pengembangan semangatwirausaha untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi.
4.      Teknologi
Para ekonom menyatakan bahwa kemajuan teknologi merupakan sumber terpentingpertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dianggap tidak mengikuti prosessejarah secara gradual, tidak terjadi terus-menerus dalam suatu keadaan yangtidak bisa ditentukan. Dinamika dan diskontiniuitas tersebut berkaiatan eratdan ditentukan oleh inovasi-inovasi dalam bidang teknologi.
Kemajuan  teknologi mencakup duabentuk, yaitu inovasi produk dan inovasi proses. Inovasi produk berkaitandengan produk-produk baru yang sebelumnya tidak ada atau pengembanganproduk-produk sebelumnya. Sedangkan inovasi proses merupakan  penggunaan teknik-teknik baru yang lebihmurah dalam memproduksi produk-produk yang telah ada.
Islam  tidak menantang konsep tentangperubahan teknologi seperti digambarkan di atas, bahkan dalam kenyataannyaIslam mendukung kemajuan teknologi. Perintah Al-Qur’an untuk melakukanpencarian dan penelitian cukup banyak dalam Al-Qur’an. Dalam terma ekonomi bisadisebut dengan penelitian dan pengembangan (research and development) yang menghasilkan perubahan teknologi.Dalam Al-quran juga ada perintah untuk melalukan eksplorasi segala apa yangterdapat di bumi untuk kesejahteraan manusia. Eksplorasi ini jelas membutuhkan penelitian untuk menjadikan sumberdayaalam tersebut berguna dan bermanfaat bagi manusia.

B. Filsafat Pembangunan Ekonomi menurut Islam
Sumber: Ahmad (1997)
Dari kajian yang dilakukan Ahmad (1997) dapatdirumuskan dasar-dasar filosofis pembangunan ekonomi ini, yaitu: 1. Tauhidrububiyah, yaitu menyatakan dasar-dasar hukum Allah untuk selanjutnya mengaturmodel pembangunan yang berdasarkan Islam. 2. Keadilan, yaitu pembanguan yangtidak pincang (senjang), tetapi pembangunan ekonomi yang merata (growth withequity) 3. Khilafah, yang menyatakan bahwa manusia adalah wakil Allah Allahdi muka bumi untuk memakmurkan bumi dan bertangung jawab kepada Allah tentangpengelolaan sumberdaya yang diamanahkan kepadanya. dan 4. Tazkiyah, yaitumensucikan manusia dalam hubugannya dengan Allah., sesamanya dan alamlingkungan, masyarakat dan negara.
Berdasarkan dasar-dasar filosofis di atas dapatdiperjelas bahwa prinsip pembangunan ekonomi menurut Islam adalah :
(a). Pembangunan ekonomi dalam Islam bersifat komprehensif dan mengandungunsur spiritual, moral, dan material. Pembangunan merupakan aktivitas yangberorientasi pada tujuan dan nilai. Aspek material, moral, ekonomi, sosialspiritual dan fiskal tidak dapat dipisahkan. Kebahagian yang ingin dicapai tidakhanya kebahagian dan kesejahteraan material di dunia, tetapi juga di akhirat.
(b). Fokus utama pembangunan adalah manusia dengan lingkungan kulturalnya.Ini berbeda dengan konsep pembangunan ekonomi modern yang menegaskan bahwawilayah operasi pembangunan adalah lingkungan fisik saja. Dengan demikian Islammemperluas wilayah jangkauan obyek pembangunan dari lingkungan fisik kepadamanausia.
(c). Pembangunan ekonomi adalah aktivitas multidimensional sehingga semuausaha harus diserahkan pada keseimbangan berbagai faktor dan tidak menimbulkanketimpangan.
(d). Penekanan utama dalam pembangunan menurut Islam, terletak  pada pemanfaatan sumberdaya yang telah diberikanAllah kepada ummat manusia dan lingkungannya semaksimal mungkin. Selain itu,pemanfaatan sumberdaya tersebut melalui pembagian, peningkatannya secara merataberdasarkan prinsip keadilan dan kebenaran. Islam menganjurkan sikap syukur danadil dan mengutuk sikap kufur dan zalim.

IV.       PENUTUP
Kajiantentang pertumbuhan (growth) dan pembangunan (development)ekonomi dapat ditemukan dalam konsep ekonomi Islam. Konsep ini pada dasarnyatelah dirangkum baik secara eksplisit maupun implisit dalam Al-Qur’an, sunnah,maupun pemikiran-pemikiran ulama Islam terdahulu, namun kemunculan kembalikonsep ini, khususnya beberapa dasawarsa belakangan ini terutama berkaitankondisi negara-negara muslim yang terbelakang  yang membutuhkan formulakhusus dalam strategi dan perencanaan pembangunannya.
Islam melihat pembangunan ekonomi sebagaipertumbuhan kematangan manusia, dimana kemajuan materi harus menunjangkematangan spiritual. Beberapa tujuan penting mesti diprioritaskan seperti:pertumbuhan diiringi dengan tenaga kerja penuh, stabilitas ekonomi, keadilandistributif dan kepedulian terhadap alam.
Pembangunan ekonomi menurut Islam memiliki dasar-dasarfilosofis yang berbeda, yaitu: (1). Tauhid rububiyah, yaitu menyatakandasar-dasar hukum Allah untuk selanjutnya mengatur model pembangunan yangberdasarkan Islam. (2). Keadilan, yaitu pembangunan ekonomi yang merata (growthwith equity), (3). Khilafah, yang menyatakan bahwa manusia adalah wakilAllah di muka bumi untuk memakmurkan bumi dan bertanggung jawab ataspengelolaan sumberdaya yang diamanahkan kepadanya, dan (4). Tazkiyah, yaitumensucikan manusia dalam hubungannya dengan Allah., sesamanya dan alamlingkungan, masyarakat dan negara
Adapunprinsip pembangunan ekonomi perspektif Islam antara lain: (a) Pembangunan ekonomi dalam Islam bersifat komprehensifdan mengandung unsur spiritual, moral, dan material. (b) Fokus utamapembangunan adalah manusia dengan lingkungan kulturalnya. (c) Pembangunanekonomi adalah aktivitas multidimensional sehingga semua usaha harus diserahkanpada keseimbangan berbagai faktor dan tidak menimbulkan ketimpangan dan (d) Penekananutama dalam pembangunan menurut Islam, terletak pada pemanfaatan sumberdaya yang telah diberikan Allah kepada ummatmanusia dan lingkungannya semaksimal mungkin.
Sama halnya dengan konsep konvensional, ada beberapafaktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor tersebut adalah : (1) Sumber daya yang dapatdikelola (invistible resources), (2) Sumber daya manusia (humanresources), (3) Wirausaha (entrepreneurship), dan (4) Teknologi (technology).
Kekhususanpertumbuhan dan pembangunan dalam ekonomi Islam ditekankan pada perhatian yangsangat serius pada pengembangan sumberdaya manusia sekaligus pemberdayaan alamuntuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Ini tidak hanya diwujudkandalam keberhasilan pemenuhan kebutuhan material saja, namun juga kebutuhan danpersiapan menyongsong kehidupan akhirat.





DAFTAR PUSTAKA

Aedy, Hasan. Teori dan Aplikasi Ekonomi PembangunanPerspektif Islam: Sebuah Studi Komparasi. 2011. Graha Ilmu: Yogyakarta.
Ahmad, Ausaf.(2000). “Economic Development in Islamic Perspective: Revisited”. Review of Islamic Economics, No. 9.
Ahmad, Khursid. Pembangunan Ekonomidalam Perspektif Islam, dalam Etika Ekonomi Politik, 1997. Risalah Gusti: Jakarta.
Chapra, M. Umer.Islam and The Economic Challenge. 1992.The Islamic Foundation and IIIT: United Kingdom.
Choudhury,Masudul Alam. (2009). “Islamic Perspective of Sosioeconomic Development”. Journal of Islamic Economics, Banking andFinance Vol. 6 No. 3.
Hasan, Zubair. (2006).“Sustainable Development from anIslamic Perspective: Meaning, Implications, and Policy Concerns”. J.KAU:Islamic Econ., Vol 19
Hasan, Zubair.(2007). “Economic Development in Islamic Perspective: Concept, Objectives, andSome Issues”. MPRA Paper No. 3011.
Ibrahim, Patmawati, Siti Arni Basir, and Asmak Ab Rahman. (2011).“Sustainable Economic Development: Concept, Principles and Management fromIslamic Perspective”. European Journal of Social Sciences –Volume 24, No. 3.
Kahf, Monzer. (1998). “Role of Government in EconomicDevelopment: Islamic Perspective”. PaperPresented at the Seminar on Economic Development, Sains Univ Penang-Malaysia,1998.
Mahrusy, Atidyet. al. (2009). “Pembangunan Ekonomi dalam Islam”. Paper.
Michael, P.Todaro, Economic Development in The ThirdWorld, 1989. New York, London, Longman.
Mohammad, Tahir Sabit Haji. (2010). “Principles of SustainableDevelopment in Ibn Khaldun’s Economic Thought”. MalaysianJournal of Real Estate, Vol5, No. 1.
Mutairi, HezamMater. (2002). “Ethics of Administration and Development in Islam: AComparative Perspective”. Journal King Saud Univ, Vol. 14.
Sadeq, A.H.M.(1987). “Economic Development in Islam”. Journalof  Islamic Economics, Vol. 1, No. 1.


[1]Penulis berterima kasih kepada Bapak Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ecatas masukan dan kritiknya yang sangat bermanfaat terhadap paper ini.

Tidak ada komentar:

ShareThis

Klik suka di bawah ini ya

 
Copyright © 2011. Jurnal Ekonomi Islam - All Rights Reserved
Created by anakmuDa Powered by Blogger